TANTANGAN PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA
TANTANGAN PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA
Semangat persatuan dan kesatuan merupakan wujud dari semangat Pancasila yang kemudian diterapkan dalam kehidupan Ketuhanan Yang Maha Esa, mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, kewarganegaraan yang dilandasi oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila merupakan nilai yang memberikan landasan fundamental dan universal, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan demikian, Pancasila menjadi pedoman bagi generasi milenial untuk terus mengimplementasikan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Di era disrupsi ini, beberapa tantangan harus dihadapi untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Misalnya, kurangnya kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Ada perbedaan pendapat tentang persatuan dan kesatuan bangsa. Terlalu banyak menekankan pada suku, kelompok atau agama daripada kepentingan bersama. Adanya pengaruh budaya eksternal yang mempengaruhi pemahaman tentang persatuan dan kesatuan bangsa. Hal yang paling berbahaya dan memalukan, bagaimanapun, adalah bahwa berita tentang hoax semakin mudah diakses. Siapapun bisa menulis, siapapun bisa berbagi, dan siapapun bisa membaca.
Jangan heran, kita berada di era peradaban baru yang didominasi oleh 'perang saraf'. Bagaimana dengan teknologinya? Tentu saja, teknologi yang dapat diperbarui secara terus-menerus adalah anugerah dari Tuhan kepada manusia. Di satu sisi, dengan penemuan dan teknologi yang semakin maju, hal ini akan memudahkan kita dalam melakukan aktivitas dan pelayanan. Di sisi lain, kehadiran teknologi terbarukan ini dapat menimbulkan masalah baru yang menakutkan. Inilah yang sedang berkembang saat ini. Menggunakan media sosial yang kuat akan membuahkan hasil, baik di sisi positif maupun negatif. Penguasaan media cetak dan media elektronik yang semakin canggih memberikan ukuran bahwa tantangan kita tidak sedikit. Teknologi dapat meningkatkan taraf hidup manusia, tetapi pada saat yang sama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertahap telah mengikis Pancasila oleh globalisasi.
Berita palsu dalam paket dengan intoleransi. Intoleransi adalah tindakan intoleran atau tidak toleran. Kefanatikan ini sering dikaitkan dengan kepercayaan atau praktik agama lain. Dari berbagai sumber, fakta menunjukkan bahwa tindakan intoleransi beragama semakin meningkat di Indonesia. Kefanatikan ini sebenarnya adalah akibat dari penelantaran anak. bangsa untuk menjunjung tinggi nilai-nilai, menjunjung tinggi bendera, menjaga semangat Pancasila, yang merupakan buah dari kesepakatan bersama.
Intoleransi adalah bundel dengan radikalisme. Radikalisme secara umum didefinisikan sebagai sebuah konsep yang membutuhkan perubahan besar di bidang politik dan sosial. Pendekatan yang digunakan bersifat ekstrim/kekerasan dan berpotensi menimbulkan konflik. Bentuk manifestasi dan gerakan radikalisme bervariasi. Dalam tulisan Ahmad Jainuri dikatakan bahwa radikalisme dari sudut pandang pemikiran didasarkan pada keyakinan tentang nilai-nilai, gagasan dan pendapat seseorang yang dinilai paling benar dan yang lain salah. Dia sangat tertutup, umumnya sulit bergaul dan hanya berbicara kepada dirinya sendiri dalam kelompoknya sendiri. Orang dengan pandangan ini umumnya tidak menerima pemikiran orang lain, kecuali pemikiran dan kelompoknya sendiri. Kewibawaan ilmunya diasosiasikan dan diperoleh dari tokoh-tokoh tertentu yang dianggap bukan milik orang lain. Oleh karena itu, kaum radikal umumnya tidak menerima angka lain sebagai sumber referensi pengetahuan mereka. Dalam berdialog biasanya dia tidak ingin memahami keragaman pendapat orang lain, tetapi ingin mendamaikan perbedaan pendapat dengan sudut pandang dan pendapat menurut standarnya sendiri, bahkan dengan memaksakan kehendaknya. Di sisi lain, radikalisme tindakan dan gerakan ditandai dengan tindakan ekstrim yang harus dilakukan untuk mengubah situasi yang diinginkan. Contohnya dalam bidang politik seperti tindakan makar, revolusi, demonstrasi dan protes sosial yang anarkis.
Radikalisme berjalan seiring dengan terorisme. Terorisme dalam konteks ini diartikan sebagai tindakan kekerasan atau ancaman untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap sasaran yang sewenang-wenang (tidak terkait langsung dengan pelaku) yang mengakibatkan pemusnahan massal, kemiskinan, kematian, ketakutan, ketidakamanan, dan keputusasaan.
Kata-kata yang diketik tanpa disaring, diposting tanpa berpikir, kemudian dibaca dan dikomentari oleh banyak orang yang tahu atau tidak tahu apa yang ditanggapinya. Konten yang diposting dengan sengaja untuk menarik perhatian publik dan peti emas. Itu terlihat sangat setiap hari. Namun nyatanya, baris dua kata di kolom media sosial yang diketik dalam waktu kurang dari satu menit dan menghabiskan biaya tidak lebih dari lima ratus rupee memiliki dampak yang sangat-sangat mengerikan.
Agar terbatas pada pengikisan jati diri bangsa akibat pesatnya perkembangan teknologi dan upaya memecah belah bangsa, bangsa itu harus kembali kepada Pancasila. Proses antisipatif ini dapat dilakukan dengan pendalaman Pendidikan Agama. Agama harus berperan penting dalam pembentukan ketakwaan pada generasi muda Indonesia, pendidikan Pancasila harus ditanamkan sehingga dapat menjadi pedoman dan landasan bagi generasi muda, menyadarkan generasi muda Indonesia untuk mengangkat “semangat Pancasila, dan melaksanakan ajaran dan keyakinan agama dengan sebaik-baiknya. , dengan mengedepankan semangat nasionalisme, misalnya dengan menyukai produk dalam negeri, dan terakhir dengan lebih selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ekonomi, dan budaya bangsa.
Selain penguatan Pancasila, konsep Bhinneka Tunggal Ika juga perlu diperkuat. Sehingga persatuan dan kesatuan warga negara Indonesia tetap terjaga. Menurut buku Pendidikan Kewarganegaraan (2020) karya Damri dan Fauzi Eka Putra, ada beberapa cara lain untuk menghadapi ancaman ideologi dan politik, yaitu: Mengembangkan demokrasi politik Melaksanakan reformasi institusi politik agar lebih memenuhi fungsi dan perannya untuk memberi makan. menjaga kepercayaan rakyat dengan menjaga pemerintahan yang bersih dan otoriter Menghormati supremasi hukum Memperkuat posisi Indonesia di kancah politik internasional.
Sosialisasi nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sangat diperlukan agar generasi milenial yang akan menjadi penerus bangsa tidak lupa dan dapat terus melestarikan jati diri bangsa Indonesia. Di saat milenial di era industri 4.0 ini harus berlomba-lomba menciptakan inovasi dan juga berpikir kreatif, dikhawatirkan banyak remaja yang mulai melupakan jati diri bangsa Indonesia. Perkembangan teknologi merupakan pengaruh terbesar dalam mengubah karakter dan perilaku generasi milenial.
Perlu diingat bahwa upaya penanggulangan ancaman pertahanan dan keamanan merupakan tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia. Kita bisa memulainya dengan hal sederhana seperti mencintai diri sendiri, keluarga, lingkungan dan negaradan serta mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. Dia secara tidak langsung dapat menjaga Persatuan dan Persatuan.
Komentar
Posting Komentar